Sabtu, 21 Juli 2012

Geomorfologi Bali

GEOMORFOLOGI BALI

Pulau Bali adalah bagian dari Kepulauan Sunda Kecil sepanjang 153 km dan selebar 112 km sekitar 3,2 km dari Pulau Jawa. Secara astronomis, Bali terletak di 8°25′23″ Lintang Selatan dan 115°14′55″ Lintang Timur .

            Geomorfologi berasal dari kata “geo” dan “morfologi”, geo artinya bumi dan morfologi artinya bentuk muka bumi. Jadi geomorfologi adalah ilmu yang mempelajari bentuk muka bumi. Namun dalam penekananya lebih mengutamakan pada bentuk-bentuk lahan. Di Bali ada beberapa jenis bentukan lahan, sebagai berikut:

1.      Bentukan lahan asal vulkanis, merupakan bentukan lahan yang bersumber dari aktivitas gunung berapi, saat terjadi erupsi material-material yang muncul seperti lava, aglomerat, bom, lapili, pasir dan tuffa. Berdasarkan relief dan topografi, di tengah-tengah Pulau Bali terbentang pegunungan yang memanjang dari barat ke timur dan diantara pegunungan tersebut terdapat gugusan gunung berapi yaitu Gunung Batur dan Gunung Agung serta gunung yang tidak berapi yaitu Gunung Merbuk, Gunung Patas, dan Gunung Seraya. Adanya pegunungan tersebut menyebabkan Daerah Bali secara Geografis terbagi menjadi 2 (dua) bagian yang tidak sama yaitu Bali Utara dengan dataran rendah yang sempit dan kurang landai, dan Bali Selatan dengan dataran rendah yang luas dan landai. Kemiringan lahan Pulau Bali terdiri dari lahan datar (0-2%) seluas 122.652 ha, lahan bergelombang (2-15%) seluas 118.339 ha, lahan curam (15-40%) seluas 190.486 ha, dan lahan sangat curam (>40%) seluas 132.189 ha. Pegunungan berelief halus sampai kasar, batuannya terdiri dari endapan vulkanik dari Gunung Buyan - Beratan dan Gunung Batur berupa lahar yang bersifat agak kompak dan batuan vulkanik dari Gunung Agung berupa tufa dan lahar yang bersifat agak lepas. Daerah ini mempunyai kemiringan antara 0 - 70 % dan beberapa tempat memiliki kemiringan terjal, terutama pada tebing sungai. Daerah ini terletak pada ketinggian antara 200 - 300 meter di atas permukaan laut. Tingkat erosi permukaan tergolong kecil sampai besar, sedangkan abrasi masih aktif untuk pegunungan berelief halus hingga sedang. Lereng bagian utara dan tenggara Gunung Agung dan sekitar Gunung Batur merupakan daerah rawan bencana. Di beberapa tempat, terutama di sekitar lembah sungai yang berhulu di Gunung Agung merupakan daerah bahaya, yaitu aliran lahar dingin dengan beberapa tempat merupakan daerah berkemungkinan longsor. Aliran lahar dari Gunung Agung menyebar di pantai utara dari Desa Tianyar sampai Desa Kubu.

 

2.      Bentukan lahan asal struktural, merupakan bentukan lahan yang terjadi akibat adanya proses endogen (proses tektonik), proses ini meliputi pengangkatan, penurunan, dan pelipatan kerak bumi, sehingga membentuk lipatan dan patahan. Selain itu ada pula struktur horizontal yang lazimnya merupakan stuktur asli sebelum mengalami perubahan. Beberapa prinsip yang perlu diperhatikan untuk mendasari interpretasi dan identifikasi bentuk struktur adalah perbedaan daya tahan(resistensi), sifat kelolosan air, pola aliran pada bentukan struktur. Perbedaan lapisan ini menyebabkan relief positif dan negative, yang positif menghasilkan bentuk gunung atau bukit sedangkan yang negative menghasilkan bentuk lembah atau cekungan. Di Bali daerah patahan yang berada di desa Angseri, Kabupaten Tabanan menyebabkan keluarnya sumber air panas, di Kabupaten buleleng yaitu di daerah Banjar juga terdapat air panas. Hal ini dikarenakan oleh batuan di bawah gunung Watukaru yang sifatnya impermeable atau batuan yang sulit ditembus magma, panas bumi keluar pada patahan di dua daerah tersebut.

 

3.      Bentukan lahan asal proses denudasional, merupakan bentukan lahan yang berasal dari proses pelapukan(weathering), erosi, dan gerak masa batuan, dan proses pengendapan(sedimentasi). Pelapukan merupakan pecahnya batuan akibat kerjasama semua proses pada batuan baik secara mekanik, maupun kimia. Pelapukan yang terjadi ini belum menyebabkan perpindahan partikel batuan ke tempat lain, dengan terjadinya pelapukan tersebut maka merupakan awal terjadinya evolusi bentuklahan khususnya dimulai dari evolusi lereng yang membatasi bentuklahan tersebut. Ada 3 proses bentuklahan yaitu lereng utama mundur, lereng utama mengecil dan lereng utama menjadi pendek. Pada umunya keadaan seperti ini terjadi di Bali pada daerah yang memiliki kemiringan terjal, seperti daerah Kintamani dan Busungbiu.


4.      Bentukan lahan asal proses fluvial, merupakan bentukan lahan yang berasal dari terjadinya erosi, transportasi dan proses pengendapan (sedimentasi). Erosi sungai dapat berbentuk, (1) Hydraulic action yaitu menumbuk dan mengerus material sungai sehingga material alluvial yang tidak kompak seperti krikil, pasir dan lempung. (2) Korasi atau abrasi yaitu pelepasan secara mekanik material alur sungai (kekuatannya lebih lemah daripada proses hidrolis). (3) Korosi yaitu proses pelapukan secara kimia akibat reaksi asam dan solusi. Transportasi sedimen sungai disebabkan oleh adanya kekuatan aliran sungai yang sering dikenal dengan istilah kompetensi sungai, yaitu keceptan aliran tertentu yang mampu mengangkut sedimen dengan diameter tertentu yang tergantung pada debit air, material sedimen dan kecepatan aliran .berbagai contoh bentukan asal proses fluvial seperti dataran alluvial, dasar sungai, rawa belakang, dataran banjir, tanggul alam, lakustrin, ledok fluvial, gosong lengkung dalam, teras fluvial, kipas alluvial, delta, igir aluvial. Pada umumnya di Bali Selatan daerah Kotamadya Denpasar dan Badung merupakan daerah dataran Banjir, karena ketinggian wilayah yang rendah dan pengendapan tanah alluvial yang dimanfaatkan untuk daerah persawahan. Di kabupaten Tabanan juga terdapat dataran aluvial dimana banyak terdapat endapan tanah vulkanik yang diakibatkan oleh adanya erosi di daerah hulu, daerah Tabanan terkenal dengan julukan lambung padi karena sebagian besar daerah persawahan berada pada kabupaten Tabanan dengan memanfaatkan dataran aluvial ini.


5.      Bentukan lahan asal proses marin, merupakan bentukan lahan yang terjadi di daerah pesisir pantai akibat dari proses tektonik, hasil letusan gunung berapi, dan perubahan muka air laut. Berdasarkan morfologinya, daerah pesisir dapat dikelompokkan kedalam 4 macam yaitu:(a)pesisir bertebing terjal(cliff). (b)pesisir bergisik. (c)pesisir berawa payau. (d)terumbu karang.

pada bentang lahan pesisir (coastal landscape) tercangkup perairan laut yang disebut dengan pantai atau tepi laut, adalah suatu daerah yang meluas dari titik terendah air laut pada saat surut hingga ke arah daratan sampai mencapai batas efektif dari gelombang. pertemuan antara air laut dan daratan ini dibatasi oleh garis pantai (shore line), yang kedudukannya berubah sesuai denga kedudukan pada saat pasang surut, pengaruh gelombang dan arus laut perairan wilayah pantai merupakan salah satu ekosistem yang sangat produktif di perairan laut. ekosistem  ini dikenal sebagai ekosistem yang dinamik dan unik, karena pada mintakat ini terjadi pertemuan tiga kekuatan yaitu yang berasal daratan, perairan laut dan udara. kekuatan dari darat dapat berwujud air dan sedimen yang terangkut sungai dan masuk ke perairan pesisir, dan kekuatan dari batuan pembentuk tebing pantainya. kekuatan dari darat ini sangat beraneka. sedang kekuatan yang berasal dari perairan  dapat berwujud tenaga gelombang, pasang surut dan arus, sedangkan yang berasal dari udara berupa angin yang mengakibatkan gelombang dan arus sepanjang pantai, suhu udara dan curah hujan.

Daerah bandara Ngurah Rai sampai jimbaran, garis pantai yang terhubung dengan bukit badung merupakan daerah rawa-rawa atau payau dimana terdapat berbagai jenis hutan mangrove. Daerah seperti ini terbentuk oleh adanya sedimen material berbutir  halus dan pantai yang relative dangkal.

Di Bali bagian selatan memilki fenomena pantai yang sangat indah seperti di pantai Nusa Dua yang memiliki pasir putih,  hal ini terjadi karena abrasi yang terjadi pada batuan karst di daerah tersebut. Beda halnya dengan pantai-pantai yang umumnya ada di daerah bali yang memiliki pantai berpasir hitam. seperti di pantai soka yang ada di Tabanan, lovina yang ada di Buleleng.

6.      Bentukan lahan asal proses angin (aeolin), merupakan bentukan lahan yang berasal pengikisan yang dilakukan oleh aktivitas angin, seperti pengangkatan pasir yang halus. Jarang ditemukan di daerah Bali, karena di Bali angin tidak begitu kencang seperti di daerah pantai Parangtritis, Yogyakarta. Vegetasi penutup yang ada di pantai Bali pada umumnya sangat rapat dan obyek-obyek lain seperti bangunan dan bukit yang menjadi penghalang untuk proses aeolin ini.

 

7.      Bentukan lahan asal proses pelarutan, merupakan bentukan lahan yang terbentuk di daerah kapur, karena batuan-batuan kapur yang mudah terlarut. Hidrogeologi Karst (Karst hydrogeology), Beberapa lokasi di Bali yang mempunyai kawasan karst yang berkembang antara lain: Pulau Bali bagian selatan seperti di Pecatu, Jimbaran. Di pulau Nusa Penida juga daerah karst karena memiliki batuan gamping yang melimpah. Bukit karst yang berbentuk: kerucut, kubah, dan ellipsoid. Bali sangat beruntung memiliki Kawasan Perbukitan Karst Jimbaran karena tidak setiap daerah memiliki bentuk bentang lahan tersebutTemuan Gua Hunian Manusia di Kampus Universitas Udayana Bukit Jimbaran Potensi Pengembangan Berbagai KeilmuanMelihat potensi temuan arkeologi pada beberapa gua di kawasan kampus UNUD Bukit Jimbaran, membuka peluang untuk menjadikan kawasan tersebut sebagai tempat studi lapangan yang terbuka (laboratorium lapangan). Terlebih lagi lokasi tersebut masuk dalam kawasan konservasi UNUD yang melindungi bentang lahan karst beserta flora fauna yang hidup di wilayah tersebut.Studi temuan tulang dan gigi binatang dapat dijadikan kajian tentang bahan pangan masa lalu serta sejarah domestikasi binatang di Bali. Demikian juga temuan tersebut ditambah dengan temuan cangkang kerang dapat dilakukan studi paleontologi dan biologi khususnya terkait pola subsistensi manusia masa lalu di kawasan karst. Termasuk juga kajian makluk hidup yang ada sekarang di kawasan karst. Speleologi atau ilmu tentang gua dapat dikembangkan di Bali dengan potensi gua yang melimpah wilayah ini. Kajian speleologi meliputi: kajian speleogenesa (mulajadi gua), speleokronologi (urutan kejadian dari pembentukan hingga perkembangan gua), speleomorfologi (bentukan di dalam gua), biospeleologi (biota gua), sedimentologi dan mineralogi gua serta iklim-mikro gua. Aspek air dan sungai bawah tanah dapat dijadikan kajian hidrologi yang lebih mengkhususkan terhadap air permukaan dan bawah tanah, termasuk keberadaaan, sirkulasi, distribusi, sifat-sifat fisika dan kimia serta interaksinya terhadap lingkungan. Kajian antarbidang dalam satu kawasan akan menambah kasanah keilmuan. Bukan hanya bidang studi yang bersangkutan, tetapi juga bidang studi lain yang memiliki kompetensi yang sama yaitu terkait idealisme penelitian. Sehingga akhirnya kasanah kajian terhadap gua-gua hunian dan lingkungannya di Kampus Bukit akan lebih multidisiplin dan lintas bidang.


Sumber:
http://id.wikipedia.org/wiki/Bali diakses tanggal 27oktober 2009

* - ,2006b, Gua-gua Hunian di Perbukitan Jimbaran: Sejak Prasejarah sampai Zaman Jepang, Makalah pada Seminar Nasional Seri Sastra, Sosial, dan Budaya Fakultas Sastra UNUD pada 15 Desember 2006.

Tidak ada komentar: